Sumatra, Desember 2025 – Menjelang penutup tahun, Indonesia kembali berduka. Bencana hidrometeorologi terbesar tahun ini menghantam sebagian wilayah Pulau Sumatra. Banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi sejak akhir November hingga awal Desember 2025 telah meluluhlantakkan permukiman, memutus akses transportasi, dan menelan korban jiwa dalam jumlah yang mengejutkan.
Peristiwa ini menjadi peringatan keras akan rapuhnya keseimbangan ekosistem kita di tengah cuaca ekstrem yang semakin tak terduga.
Kronologi dan Wilayah Terdampak Banjir dan Longsor
Bencana bermula dari curah hujan dengan intensitas ekstrem yang mengguyur tanpa henti sejak pekan terakhir November 2025. Hujan deras ini memicu meluapnya sungai-sungai besar dan ketidakstabilan tanah di wilayah perbukitan.
Tiga provinsi yang mengalami dampak terparah adalah Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat.
- Sumatera Utara: Wilayah Tapanuli (Utara, Tengah, dan Selatan) serta Kota Sibolga menjadi titik episentrum kehancuran. Air bah bercampur lumpur menerjang desa-desa, menyeret rumah, dan merusak fasilitas umum.
- Aceh & Sumatera Barat: Banjir merendam ribuan rumah dan memutuskan jalan nasional, membuat proses evakuasi dan distribusi bantuan tersendat.

Dampak Kemanusiaan yang Masif
Skala bencana kali ini tergolong katastrofik. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 4-5 Desember 2025 mencatat angka-angka yang memilukan:
- Korban Jiwa: Lebih dari 800 orang dilaporkan meninggal dunia.
- Hilang: Ratusan warga masih dinyatakan hilang dan dalam pencarian tim SAR gabungan.
- Pengungsi: Lebih dari 1 juta jiwa terpaksa meninggalkan rumah mereka dan tinggal di pengungsian darurat.
- Populasi Terdampak: Secara keseluruhan, bencana ini berdampak langsung pada kehidupan lebih dari 3,3 juta orang.
Kerusakan infrastruktur juga sangat parah. Jembatan putus, sekolah hancur, dan akses listrik serta komunikasi di beberapa daerah terpencil sempat lumpuh total, mengisolasi warga yang membutuhkan pertolongan.
Analisis Penyebab: “Bencana Ekologis”
Meskipun pemicu utamanya adalah cuaca ekstrem (faktor alam), para ahli lingkungan dan akademisi sepakat bahwa keparahan dampak bencana ini diperburuk oleh faktor manusia, sering disebut sebagai “bencana ekologis”.
- Degradasi Hutan di Hulu: Alih fungsi lahan di daerah tangkapan air (hulu sungai) menjadi perkebunan atau pertambangan mengurangi kemampuan tanah menyerap air. Akibatnya, air hujan langsung meluncur deras ke hilir membawa material tanah dan bebatuan.
- Kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS): Pendangkalan sungai dan penyempitan bantaran sungai membuat kapasitas tampung air menurun drastis.
Respons dan Penanganan
Pemerintah pusat dan daerah telah menetapkan status tanggap darurat. Tim gabungan dari TNI, Polri, Basarnas, serta relawan masyarakat sipil bekerja keras menembus medan berat untuk mencari korban dan menyalurkan bantuan logistik.
Bantuan dari sektor swasta juga mulai mengalir. Berbagai perusahaan menyalurkan dana Corporate Social Responsibility (CSR) untuk kebutuhan mendesak seperti makanan, selimut, dan obat-obatan. Namun, tantangan terbesar saat ini adalah aksesibilitas menuju wilayah-wilayah yang terisolir akibat longsor.

Refleksi
Banjir Sumatra 2025 bukan sekadar statistik bencana tahunan. Ini adalah panggilan mendesak bagi seluruh pemangku kepentingan untuk meninjau ulang tata ruang dan kebijakan lingkungan. Tanpa pemulihan ekosistem hulu yang serius, ancaman serupa akan terus mengintai setiap musim hujan tiba.
Bagi kita semua, peristiwa ini mengajak untuk terus mengulurkan tangan, membantu saudara-saudara kita, bantuan bisa berupa bentuk uang, pakaian, makanan, minuman, dan sebagainya. di Sumatra bangkit dari lumpur kesedihan menuju pemulihan.
Leave a Reply